Ikan Gabus, Andalan Finalis Gorontalo di Audisi Masak Istana

oleh

 

JAKARTA, LANDAK NEWS – Gelaran Lomba Masak Ikan Nusantara memasuki babak final. Sepuluh peserta dari lima kota di Indonesia, yakni Jakarta, Batam, Pontianak, Biak serta Gorontalo beradu rasa demi status bergengsi, jadi koki istana pada perayaan HUT RI yang ke-72.

Masing-masing peserta akan unjuk kebolehan dalam kreasi masakan ikan serta berusaha mempopulerkan potensi kuliner daerah asal mereka. Tak tanggung-tanggung, salah satu finalis asal Gorontalo, Non Lahibu memboyong ikan gabus menuju Jakarta. Salah satu ikon Gorontalo ini ia yakini mampu memikat lidah tim juri.

Non akan menyajikan masakan Woku Ikan Gabus Bambu Kuning. Menurutnya, woku biasa menggunakan ikan tuna atau tongkol, tapi ia ingin sesuatu yang berbeda.

“Dekat rumah ada budidaya ikan gabus, maka saya coba buat (woku menggunakan ikan gabus). Ikan gabus itu lunak dan teksturnya lembut,” kata Non saat ditemui CNNIndonesia.com usai konferensi pers di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (10/8).

Non mengatakan, woku layaknya pepes yang perlu dibungkus daun. Bedanya, jika pepes dibungkus dengan daun pisang, maka woku dibungkus dengan daun kemangi. Ia pun memilih bambu kuning sebagai wadah, karena lebih tipis daripada bambu hijau,sehingga proses pemasakan tak butuh waktu lama.

Pertama, ikan gabus dibuang tulangnya, kemudian dipotong dadu. Setelah ikan siap, campur dengan bumbu-bumbu seperti sereh, pandan, jeruk, bawang putih, jahe, kemiri, dan santan kental.

“Daun kemangi tidak dicampur, ia gampang layu, maka jadi alas di dalam bambu,” tambahnya.

Non mengatakan, selanjutnya ikan dapat dikukus atau dibakar. Namun karena katerbatasan waktu perlombaan, maka ia akan mengukus ikan. Pengukusan memakan waktu selama satu jam.

“Sebetulnya enak dibakar. Kalau dibakar, lapisan daun harus lebih tebal, lalu pembakaran bisa satu sampai satu setengah jam” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Gorontalo, Fory Armin Naway menuturkan, ikan gabus merupakan ikan yang kaya akan nutrisi. Ikan ini punya kandungan antibiotik yang mampu membantu penyembuhan luka bakar maupun luka dalam.

Ia bercerita, sejak zaman leluhur masyarakat Gorontalo hingga kini, ikan gabus selalu ada dalam menu sajian saat acara-acara adat.

“Dulu orang tua menghendaki ikan gabus itu yang utama,” katanya.

Ikan gabus biasa dimasak kuah asam atau dibuat bilenthango. Bilenthango, kata Fory, adalah ikan gabus yang dibelah kemudian diberi bumbu cabai serta tomat. (cnni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *