Gerak Cepat, Dinkes Landak PE di Desa Mungguk

oleh

Ilustrasi

NGABANG, LANDAKNEWS – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Landak memerintahkan Puskesmas Ngabang untuk melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) di Dusun Munggu Desa Munggu Kecamatan Ngabang yang sudah terdapat kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kasus DBD di desa tersebut menyerang dua anak yang masih adik beradik yakni, Anugrah Ananda Putra berusia 12 tahun dan Nouval yang berusia 11 tahun. DBD inipun merenggut nyawa Nanda. Sedangkan Nouval mendapat perawatan intensif di RSUD Landak.
Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatan Landak, Sri Wahyuni mengatakan, pihaknya sudah memerintahkan Puskesmas Ngabang untuk melakukan PE di Desa Munggu.

“Begitu mendapatkan kabar adanya kasus DBD di desa tersebut, kita meminta Puskesmas Ngabang untuk melakukan PE dibdaerah tempat tinggal korban. Hal ini dikarenakan Desa Munggu masih masuk wilayah Puskesmas Ngabang, ” ujar Yuni di Ngabang, Senin (19/2).
Dijelaskannya, PE yang dilakukan itu untuk melihat kondisi di daerah tempat tinggal korban.

“Kita akan melihat apakah masih ada masyarakat disekitar rumah korban yang mempunyai gejala sama dengan penderita. Kita juga mengupayakan akan melakukan fogging focus di daerah itu,” katanya.

Tidak hanya kegiatan PE yang akan dilakukan Puskesmas Ngabang. Mereka juga akan melakukan penyuluhan, abatenisasi dan anjuran Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) kepada masyarakat.

“Hal ini untuk mengurangi resiko terjadinya kasus DBD. Tapi kadang-kadang masyarakat selalu lupa untuk melakukan PSN tersebut,” akunya.
Diakui lagi oleh Yuni, Dinkes Landak memang mendapat informasi jika korban meninggal sudah empat hari mengalami sakit.

“Namun korban berobat ditempat yang bukan pelayanan kesehatan. Padahal di Desa Munggu ada juga Pustu. Tapi yang bersangkutan tidak mendatangi Pustu yang dimaksud. Akhirnya, penyakit yang diderita korban tidak terekam oleh Dinkes Landak dan Puskesmas Ngabang. Tau-taunya korban sudah dibawa ke rumah sakit. Salah satu korban juga meninggal dalam perjalanan. Jadi, ketika sampai ke UGD RSUD Landak, korban sudah meninggal dunia,” terangnya.
Yuni menegaskan, sakit yang dialami korban memang sudah terlambat ditangani.

“Akibatnya, penyakit yang diderita korban semakin parah.
Pembuluh darah korban meninggal pecah atau mungkin trombositnya sudah drop. Adik korban juga masuk ruang ICU RSUD Landak. Rencananya pihak keluarga meminta supaya korban di rujuk ke rumah sakit di Pontianak,” jelasnya.

Ia lagi-lagi mengingatkan masyarakat untuk bersama-sama mencegah merebaknya wabah DBD.

“Lakukan upaya 3 M yakni, menguras, menutup dan mendaur ulang barang-barang bekas. Selain itu kenali juga gejala DBD seperti munculnya demam tinggi, sakit kepala parah, sakit di belakang mata, nyeri sendi, nyeri otot dan tulang, ruam, dan pendarahan ringan,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Desa (Kades) Munggu, Mulyadi mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya salah satu warganya yang meninggal dunia akibat terkena DBD.

“Kita cukup prihatin dengan adanya kasus DBD yang melanda desa kami. Kita sudah melaporkan kasus DBD ini ke Dinas Kesahatan Landak. Kita juga berharap Dinkes Landak bisa melakukan fogging di desa kami. Dengan demikian tidak ada lagi warga kami yang menjadi korban DBD,” harapnya.

Ia juga meminta kepada masyarakat Desa Munggu supaya bisa tenang menghadapi kasus DBD yang melanda desa tersebut.

“Kami juga tidak menginginkan hal ini terjadi di desa kita. Oleh karena itu, mari kita sama-sama melakukan penanggulangan DBD ini dengan menjaga lingkungan sekitar. Yang terpenting, tingkatkan semangat gotongroyong untuk membersihkan lingkungan desa kita sendiri, ” pintanya.

Penulis: Tim Liputan
Editor: One

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *