Pasar Wisata Halal yang Semakin ‘Seksi’

oleh

lustrasi. (Thinkstock/Rex_Wholster)

JAKARTA, LANDAKNEWS – Tahun 2015, Indonesia berhasil meraih tiga penghargaan sebagai destinasi halal dunia dalam acara World Halal Travel Award 2015 di Uni Emirat Arab (UEA). Namun jauh sebelum itu, wisata halal sudah menjadi perhatian para ‘pemain’ di industri pariwisata.

Potensi pasar muslim dunia rupanya sangat menggiurkan. Berdasarkan laporan Thomson Reuters dalam Global Islamic Economy Report 2016-2017, pengeluaran turis muslim tahun 2015 sebesar US$151 miliar, angka itu hanya kalah dari China yang bercokol di peringkat pertama dengan pengeluaran sebesar US$168 miliar.

Diperkirakan tahun 2021, pengeluaran turis Muslim yang ke luar negeri bisa mencapai angka US$243 miliar. Sementara itu, studi serupa yang dilakukan oleh MasterCard dan CrescentRating dalam Global Muslim Travel Index 2017, pada tahun 2016 tercatat ada 121 juta turis Muslim dan diperkirakan pada tahun 2020 meningkat menjadi 156 juta turis Muslim.

Tak heran jika banyak negara yang ‘tergiur’ untuk menggarap pasar yang ‘seksi’ ini. Untuk menggarap pasar tersebut, ekosistem bagi turis Muslim memang harus dibuat dan dikembangkan. Indikator ekosistem untuk wisata halal berdasarkan data dari Global Islamic Economy Report 2016-2017 meliputi transportasi, akomodasi, kuliner, agen perjalanan, dan atraksi wisata.

Ada 10 negara yang sudah mengembangkan ekosistem itu dengan baik, sayangnya Indonesia tidak masuk ke dalam daftar tersebut. Peringkat pertama diduduki oleh Uni Emirat Arab, sedangkan Malaysia berada di posisi ke-dua dan Singapura berada di peringkat ke-empat.

Pasar turis Muslim terbesar masih dipegang oleh Arab Saudi, karena penduduknya mengeluarkan total US$19,2 miliar untuk berwisata. Posisi ke-dua ditempati Uni Emirat Arab dengan pengeluaran sebesar US$15,1 miliar, sedangkan Indonesia berada di posisi ke-lima dengan pengeluaran sebesar US$9,1 miliar.

Menyikapi fenomena wisata halal dan turis Muslim di dunia, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata Riyanto Sofyan menjelaskan potensi yang dimiliki Indonesia. Dikatakannya, turis Muslim yang datang ke Indonesia pada tahun 2016 berjumlah sekitar 2,4 juta orang.

Riyanto menambahkan, pengeluaran turis Muslim mencapai US$2.500 per turis per kunjungan, angka ini lebih besar dari turis biasa yang pengeluarannya “hanya” US$1.100. “Jadi tinggal dikali aja 2,4 juta dengan US$2.000. Hampir US$5 miliar lho,” ujar Riyanto kepada CNNIndonesia.com saat dihubungi lewat telepon pada Senin (19/3). Sementara itu, ia melanjutkan, berdasarkan riset tahun 2014, ada 112 juta turis Muslim kelas menengah di Indonesia yang bisa menjadi pasar wisata halal. Hal itu tidak lepas dari wisata yang sudah menjadi gaya hidup. “Ini (turis muslim) bukan ceruk pasar yang kecil, namun bisa dibilang merupakan pasar utama,” lanjutnya.

Sementara itu, jika dikerucutkan untuk sektor makanan saja, turis Muslim di peringkat pertama untuk hal ini. Menurut Global Islamic Economy Report 2016-2017, turis Muslim menghabiskan US$1.173 miliar untuk makanan atau lebih besar US$319 miliar dari turis China.

Dalam hal ini, Indonesia menempati posisi pertama dengan pengeluaran sebesar US$154,9 miliar, di bawahnya ada Turki dengan pengeluaran sebesar US$115,5 miliar. “Saya pikir pelaku industri wisata di Indonesia perlu tahu akan potensi wisata halal ini. Pasarnya besar dan sangat menguntungkan.

Biaya untuk sertifikasi halal pasti tidak terlalu mahal. Kalau mereka sudah bisa melakukan sertifikasi produk dengan sertifikasi yang lain kenapa tidak dengan sertifikasi halal?” kata Riyanto.

Sumber: CNNI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *