Netizen Indonesia Terpopuler di Dunia

oleh

Netizen Indonesia Terpopuler di Dunia. (Istimewa)

JAKARTA, LANDAKNEWS – Netizen Indonesia memiliki kekuatan besar yang bisa memengaruhi dunia. Tidak hanya sebagai pengguna, netizen Indonesia juga terkenal paling “berisik” saat menggunakan media sosial. Data terbaru yang dikeluarkan Hootsuite We Are Social pada akhir Januari 2018 lalu mengungkapkan, Indonesia berada di peringkat ketiga dunia yang mengalami kenaikan pertumbuhan media sosial.

Adapun Jakarta dan Bekasi menjadi kota ketiga dan keempat peringkat dunia yang menggunakan media sosial Facebook. Salah satu contoh anyar bagaimana kekuatan netizen Indonesia adalah bergabungnya pesepak bola Egy Maulana Vikrike klub sepak bola Polandia Lechia Gdanks. Sebelum Egy bergabung, follower akun Instagram resmi Lechia Gdanks hanya sekitar puluhan ribu.

Namun satu hari setelah klub tersebut mengumumkan resmi nama Egy sebagai pemain, follower Lechia Gdanks di Instagram menjadi ratusan ribu. Akun Lechia Gdanks pun kebanjiran komentar hingga puluhan ribu ketika memajang foto Egy.

Ini berbeda dengan sebelum Egy bergabung, akun Instagram mereka hanya di komentari ribuan atau bahkan ada yang hanya ratusan. Hal serupa terjadi pada ajang Piala AFC 2018 ketika Persija Jakarta dan Bali United menghadapi lawan-lawan dari kawasan Asia. Gol pemain Persija Rezaldi Hehanusa kegawang klub sepak bola Singa pura Tampines Rovers menjadi yang terbaik di pekan kedua gelaran. Gol pemain bek kanan ini mendapat 85.313 suara atau 87% dari total 98.325 suara dalam jajak pendapat melalui Instagram.

Begitu juga dengan gol pemain Bali United Stefano Lilipaly. Gol dia ke gawang FLC Thanh Hoa (Vietnam) pada pekan ketiga gelaran Piala AFC 2018 juga menjadi yang terbaik. Gol pemain naturalisasi ini mendapat dukungan dari 31.446 pemilih atau 83% suara juga melalui jajak pendapat di media sosial.

Pengamat media sosial Enda Nasution mengungkapkan, netizen di Indonesia memang kerap membuat takjub. Gerakan netizen Indonesia selama ini dinilai sangat kompak saat mengomentari isu yang seksi, terutama menyangkut nasionalisme. Kekompakan itu menurutnya bukan teroganisasi, tetapi didasari rasa empati yang tinggi untuk membela negaranya dari netizen negara lain. Mengenai netizen yang memang teroganisasi, Enda mengakui bahwa hal itu bisa ber dampak besar dalam menyikapi beberapa isu sensitif, terutama menyangkut politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

“Jadi dalam suatu kelompok yang diorganisasi itu, harus ada yang menyampaikan sesuatu sebagai bentuk validasi terhadap isu tersebut. Setelah itu efeknya adalah dukungan terus mengalir dan hal itu terus akan berpengaruh sangat kuat di dunia maya,” tutur Enda.

Netizen menurutnya juga memiliki peran penting untuk sebuah organisasi, perusahaan, dan seorang tokoh. Bagi perusahaan atau lembaga, netizen merupakan bagian dari sisi eksternal mereka. Netizen dapat melihat langsung perihal perusahaan, maka setiap perusahaan wajib untuk aktif di dunia maya. “Perusahaan di bidang apa pun bisa menjadi penyedia informasi. Buatlah konten bermanfaat bagi masyarakat, setelah itu pilihan selanjutnya ingin aktif atau tidak dengan netizen,” jelasnya.

Sementara itu pakar ilmu komunikasi Universitas Padjadjaran Dandi Supriadi mengatakan, kehadiran netizen merupakan wujud nyata dari iklim demokrasi saat ini. Internet selama ini ikut meningkatkan partisipasi publik. Orang yang sebelumnya tidak bersuara bisa menjadi bersuara meskipun hanya di dalam dunia maya.

Namun sayangnya netizen Indonesia sampai saat masih lebih memperhatikan dan merespons isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Perdebatan yang terbangun dan ramai di medsos pun bukan merupakan debat intelek dan lebih pada sentimen negatif. Hal itu disebabkan kultur orang Indonesia memang berbeda dengan kultur masyarakat di negara maju.

“Kultur netizen Indonesia lebih cenderung kolektivistis. Orang Indonesia senang ngobrol, menggosip, dan membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu ada pembuktian. Itu menyebabkan kualitas opini yang viral di media sosial di Indonesia kurang dapat diper tanggung jawabkan sebenarnya. Akhirnya perdebatan yang muncul tadi seperti debat kusir,” tutur dia.

Sosiolog Universitas Indonesia Daisy Indira Yasmin mengatakan, budaya yang bebas berpendapat secara lambat laun akan membawa dunia ini ke dalam era budaya baru. Kebebasan tersebut sayangnya masih tidak diiringi iktikad baik warganet sehingga banyak yang menggunakan identitas palsu. Banyaknya penduduk dunia maya yang “abu-abu” tersebut ikut menambah kontribusi tingginya kemerdekaan netizen lain dalam menyampaikan pendapat. “Konteks berjejaring sama halnya seperti dalam kehidupan sehari-hari. Konteks kerumuman potensi perilaku kolektifnya masih ada sehingga jika ada satu orang saja yang mengeluarkan isu, maka isu itu akan cepat tersebar bila kelompoknya langsung berkomentar,” jelasnya.

Hal seperti itu menurut Daisy yang membuat beragam aktivitas di dunia maya cepat menjadi tren. Netizen secara langsung bisa mengungkapkan pendapatnya apakah dia suka atau tidak suka terhadap isu tersebut, terlepas dari apakah isu itu layak atau tidak dikomentari secara berlebihan.

“Karena netizen itu bagaimanapun selalu memiliki kebebasan untuk berpendapat di muka umum,” tandasnya. “Sekarang banyak orang mulai aware dengan fenomena yang terjadi di sekitarnya, di negaranya. Sayangnya, jika dibandingkan dengan Negara-negara maju, kualitas opini publik yang berkembang di ranah internet belum sama. Artinya komentar-komentar netizen Indonesia itu masih lebih banyak opini yang sukar dibuktikan atau kredibilitasnya kurang,” ujar Dandi.

Sumber: Sindo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *