Home / Kab Landak

Selasa, 8 September 2020 - 13:24 WIB

Pendiri KBMN Resah Melihat Konflik di Keraton Ismahayana Landak

Ya’ Asurandi A.  Hamid

NGABANG – Beberapa pekan ini santer terdengar kabar di media online, jawab menjawab komentar antara para kerabat internal Keraton Landak, semakin mencuat setelah diadakannya Ritual Cuci Benda Pusaka oleh H. Gusti Boy Sulaiman, dimana acara Cuci Benda Pusaka baru kali ini dipublikasikan dan dibuat acara, Keris Pusaka yang bernama si Kanyut yang dipegang Almarhum Raja Landak, DR. Gusti Suryansyah tidak bisa dihadirkan oleh Pangeran Ratu Gusti Fikri Azizzurahmansyah selaku Putra Mahkota.

Hal ini dikomentari  Pendiri Keluarga Besar Melayu Ngabang (KBMN)  Ya’ Asurandi, S.Si yang juga secara trah adalah keturunan Bangsawan Kerajaan Landak.

Menurut Ya’Asurandi, yang pernah menjabat Ketua Umum Relawan Bapak Drs.H. Jusuf Kalla tahun 2012-2014 ini, sebaiknya akar permasalahan jawab menjawab, konflik dikalangan internal Keraton ini diselesaikan secara kekeluargaan, jangan sampai malah semakin banyak berkomentar malah saling membuka aib yang harusnya saling ditutupi, apalagi kita semua adalah satu rumpun keluarga besar keturunan Raja Abdul Kahar.

“Seharusnya kalangan internal Keraton Landak memahami, bahwa Keraton itu adalah Simbol Melayu, jadi Keraton Landak itu bukan hanya milik segelintir kalangan di Keraton, tapi milik orang banyak, makanya jika terjadi apa-apa didalam Keraton, sangat dipahami bahwa masyarakat Melayu secara luas pun geram, apalagi beredar kabar bahwa masalah utamanya bukan perihal Keris si Kanyut, tapi ada gelagat akan melakukan “kudeta”, menganti Putra Mahkota, semoga isu yang beredar ini adalah HOAX,” tegas Ya’ Asurandi.

Baca juga  1200 Listrik Gratis Dari CSR PLN, Landak Mendapatkan 400 Listrik Gratis

Dengan nada geram, Ya’Asurandi melanjutkan komentarnya ; “seperti kita ketahui bersama, masyarakat umum juga tahu, bahwa pada 30 Mei 2015, Almarhum Raja Iswaramahayana Dipati Karang Tanjung, DR. Drs. H. Gusti Suryansyah, M.Si, memberikan Gelar Keluarga Bangsawan kepada ananda Gusti Fikri Azizzurahman dengan Gelar “Pangeran Ratu Setia Ismahayana” dengan membawa Gelar “Putra Mahkota Ismahayana,” dikukuhkan secara Sah bahkan dengan Surat Keputusan (SK) : 43/KL/V/2015. Hal ini harusnya memperjelas status adinda Gusti Fikri, tidak bisa diganggu gugat.

Ketika waktu pemberian gelar pada tahun 2015 sesudah Gusti Suryansyah ditabalkan menjadi Raja, barulah beliau bertitah memberi kepada Ibundanya 1. Hj. Utin Taufikiyah, SH sebagai Ratu Suri, 2. H. Gusti Mahmuf Hamid gelar Pangeran Tetua Nata Ismahayana, 3. Siti Hasanah gelar Ratu Mas, 4. Pangeran Ratu Setia Ismahayana, 5. Pangeran Laksamana Setia Ismahayana, 6. Pangeran Putri Cahahaya Setia Ismahayana, 7. Gusti Syafiudin gelar Pangeran Sri Laksamana Nata Ismahanyan, dan H. Ya’ Zulkifli gelar Pangeran Datuk Mufti Ismahayana (Ulama Kerajaan).

“Jika terjadi kesalahpahaman atau ketidaksepemahaman di kalangan internal Kerabat Keraton, harusnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan bukan ribut-ribut di media online, Majelis Kerajaan pun ada, harusnya bisa menjembatani konflik begini, kita utamakan kepala dingin dan semangat kekeluargaan, jika diperlukan MABM juga harusnya bisa menjadi jembatan untuk duduk bersama, ” saran Ya’Asurandi yang juga menjabat Wakil Ketua di MABM Kabupaten Landak.

Harus di ingat, Simbol Marwah Melayu itu adalah Keraton, rusak Keraton, berarti merusak Marwah Melayu, hal ini tentunya tidak dibenarkan.

Baca juga  Harga Telor Masih Rp. 2.000

Untuk Pangeran Ratu, Putra Mahkota Gusti Fikri Azizzurahman sebaiknya jangan senyap dan diam saja, tidak ada kata muda dalam memimpin, tunjukkan bahwa adinda memang layak memimpin Kerajaan Landak seperti mandat Putra Mahkota yang dikukuhkan Ayahanda Pangeran Ratu, jangan biarkan konflik ini berlarut-larut seperti tanpa ujung kejelasan.

“Keraton itu bukan hal pribadi adinda dan keluarga adinda saja, tapi ini soal Marwah Melayu, jaga dan lestarikan dengan baik dan terhormat. Jika adinda merasa tidak mampu dan tidak mau, segera letakkan amanah Putra Mahkota itu dengan terhormat, sikap harus jelas,  jangan bimbang tak tentu ujung. Mari letakkan sesuatu pada tempatnya, masyarakat luas menunggu akhir konflik ini, tentu dengan akhir yang happy ending, ” saran  Ya’Asurandi.

Kerajaan dimasa sekarang tentu berbeda peran dengan Kerajaan dimasa sebelum Indonesia Merdeka, dulu berkuasa dan memerintah, sedangkan sekarang hanyalah institusi penjaga warisan budaya.

“Saya pribadi tidak tertarik mendukung kubu manapun yang berkonflik, tapi sepemahaman saya, saya akan mendukung tata kelola organisasi yang baik, aturan main harus jelas dan menolak cara-cara yang tidak sehat. Semoga konflik ini segera berakhir, dan kita bersama bisa berkiprah menebar tuah, berbagi berkah dalam Persatuan  “ tambahnya.

Pemulis: Hrn
Editor: One

Share :

Baca Juga

Kab Landak

Relawan Kemanusiaan Galang Dana Dijalan Untuk Aninnaya Azzahara

Kab Landak

Peduli Korban Banjir, Sanggar Seni Turonggo Langgeng Budoyo Gelar Baksos

Kab Landak

Desa Raja Salurkan BLT Tahap I

Kab Landak

HKTI Kabupaten Landak Bagikan Masker Kepada Kelompok Tani

Kab Landak

Penemuan Makam Baru di Belakang Area Makam Raja Abdul Kahar Ismahayan Landak

Kab Landak

UJB Organizer, Adakan Lomba Kontes Kicau Burung Mania Dalam Rangka Meriahkan HUT RI Ke 75 Tahun 2020

Kab Landak

Fire Fighter Ngabang Bagikan 5000 masker Secara Gratis Untuk Warga

Kab Landak

Kades Sungai Keli Ajukan 3 Prioritas Pembangunan di Musrembang Tingkat Kecamatan Ngabang
error: Content is protected !!